Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali memanas dan menjadi perhatian dunia. Sejumlah media internasional maupun nasional menyoroti potensi dampaknya terhadap perekonomian global, terutama dari sisi harga minyak dunia yang berpotensi melonjak.
Kekhawatiran pun mulai muncul di berbagai sektor, termasuk industri properti. Pertanyaannya, apakah konflik geopolitik ini akan benar-benar memberikan dampak terhadap pasar properti Indonesia? Berikut analisis lengkapnya.
Baca Juga: Pasar Properti 2025 di Indonesia: Tren Pasar dan Prospek Properti 2026
Dampak Jangka Pendek terhadap Pasar Properti Indonesia

Melansir pemberitaan dari Detik.com, konflik Iran vs Amerika Serikat dan Israel tidak memberikan efek langsung terhadap pasar properti di Indonesia. Aktivitas transaksi masih berjalan normal, konsumen yang memang sudah berencana membeli properti tetap melanjutkan prosesnya, dan pengembang tetap merilis produk baru sesuai jadwal.
Hal ini disebabkan karena sektor properti Indonesia masih didominasi oleh permintaan domestik. Mayoritas pembeli merupakan masyarakat dalam negeri, sehingga tidak terlalu terpengaruh langsung oleh dinamika geopolitik global dalam jangka pendek.
Selain itu, sebagian besar bahan baku konstruksi seperti pasir, batu, dan sebagian semen diperoleh dari dalam negeri. Artinya, gangguan pasokan internasional belum tentu langsung memengaruhi harga properti saat ini.
Baca Juga: Apa Dampak Tarif Trump Terhadap Investasi Properti di Indonesia?
Risiko Jika Perang Berlangsung Lama
Situasi dapat berubah apabila konflik berlangsung dalam waktu yang panjang dan memicu gangguan serius terhadap distribusi energi global. Salah satu risiko terbesar adalah lonjakan harga minyak dunia.
Jika harga minyak meningkat tajam, dampaknya akan merambat ke berbagai sektor. Biaya transportasi dan distribusi material bangunan dapat naik karena operasional alat berat dan kendaraan logistik sangat bergantung pada bahan bakar.
Kenaikan harga energi juga dapat memicu inflasi. Ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat akan tertekan karena harga kebutuhan pokok ikut naik.
Pengaruh terhadap Nilai Tukar Rupiah dan Suku Bunga
Lonjakan harga minyak juga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak dalam jumlah tertentu, kenaikan harga minyak berarti kebutuhan dolar Amerika Serikat meningkat. Kondisi ini berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah.
Dalam situasi rupiah melemah dan inflasi meningkat, Bank Indonesia dapat mengambil langkah dengan menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas ekonomi.
Ketika suku bunga acuan naik, perbankan biasanya akan menyesuaikan bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dampaknya, masyarakat yang membeli rumah dengan skema KPR dapat menghadapi bunga yang lebih tinggi, khususnya pada skema bunga floating.
Kenaikan bunga KPR ini sangat sensitif bagi segmen kelas menengah dan menengah ke bawah, karena perubahan kecil pada suku bunga dapat memengaruhi besaran cicilan secara signifikan.
Dampak terhadap Pengembang Properti
Senada dengan analisis tersebut, Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) menyampaikan adanya kekhawatiran terkait potensi kenaikan biaya transportasi apabila konflik berlangsung lama. Dikutip dari Kompas.com, ia menjelaskan bahwa distribusi material pembangunan menggunakan transportasi berat yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Apabila harga minyak naik, ongkos distribusi meningkat dan dalam jangka menengah dapat mendorong kenaikan harga properti. Walaupun kenaikan tersebut tidak terjadi secara instan, tekanan biaya tetap akan dirasakan oleh pengembang.
Selain itu, pengembang kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam merilis proyek baru. Peluncuran proyek dapat diperlambat untuk menjaga kestabilan arus kas dan mengantisipasi ketidakpastian pasar. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menyebabkan penghentian proyek secara total.
Baca Juga: Kisruh Tapera, Ini Definisi dan Pengaruhnya Pada Industri Properti
Siapa yang Paling Terdampak?
Apabila skenario kenaikan inflasi dan suku bunga benar-benar terjadi, dampaknya akan lebih terasa bagi masyarakat kelas menengah dan menengah ke bawah. Segmen ini umumnya sangat bergantung pada pembiayaan KPR dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap kenaikan cicilan maupun biaya hidup.
Sementara itu, segmen menengah atas dan investor cenderung lebih stabil karena memiliki fleksibilitas pembiayaan yang lebih besar.
Itu dia penjelasan mengenai apakah industri properti Indonesia akan terdampak dengan adanya perang Iran vs AS-Israel. Baca berita terbaru seputar dunia properti hanya di A&A Indonesia.
Sedang Cari Properti di Surabaya atau Kota Lainnya? Cari dengan Mudah di A&A Indonesia!
Temukan berbagai pilihan rumah, apartemen, ruko, gudang, hingga tanah dengan informasi lengkap dan proses yang aman bersama A&A Indonesia. Kami membantu Anda menemukan properti sesuai kebutuhan, baik untuk hunian pribadi maupun investasi, dengan lokasi strategis dan harga kompetitif.
Didukung tim agen properti yang telah berpengalaman dalam jual beli sewa properti selama lebih dari 19 tahun, kami siap mendampingi Anda dari pencarian hingga transaksi selesai.


