Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS), telah mengumumkan keputusan The Fed terhadap suku bunga Amerika Serikat pada 30 Juli waktu AS. Walau terus didesak oleh Donald Trump, The Fed tetap mempertahankan suku bunga pada level 4,25-4,50%.
Pengumuman kebijakan moneter AS memang seringkali menjadi pusat perhatian dunia. Sebab, kebijakan tersebut berpengaruh terhadap arus ekonomi global.
Pengaruh Kebijakan The Fed Terhadap Suku Bunga di Indonesia
Dalam konteks ekonomi Indonesia, suku bunga diatur oleh Bank Indonesia (BI). Namun, ada pengaruh secara tidak langsung dari keputusan The Fed terhadap kebijakan moneter dari BI.
Seperti contohnya, dilansir dari Kompas.id, BI pernah menurunkan suku bunga pada September 2024 menjadi 6%. Dalam laporan itu disebutkan bahwa salah satu faktor alasan mengapa BI menurunkan suku bunga adalah untuk mengantisipasi arah kebijakan moneter dari The Fed, walau kebijakan itu dilakukan sebelum adanya keputusan dari bank sentral AS.
Baca Juga: Apa Dampak Tarif Trump Terhadap Investasi Properti di Indonesia?
Secara teori, suku bunga AS berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Jika suku bunga AS tinggi, dollar akan lebih kuat dan rupiah akan melemah. Jika sebaliknya, nilai tukar rupiah akan cenderung stabil.
BI sendiri telah memangkas suku bunga atau BI-Rate menjadi 5,25% pada 15-16 Juli lalu. Apakah tinggi rendahnya suku bunga berdampak terhadap properti? Tentu saja ada efeknya, simak penjelasan di bawah ini.
Efek Suku Bunga Terhadap Harga dan Permintaan Properti
Efek Suku Bunga Turun Terhadap Properti
Mengutip aesia.kemenkeu.go.id, turunnya suku bunga dapat meningkatkan harga properti. Ketika suku bunga turun, biaya cicilan seperti KPR akan lebih terjangkau dan banyak orang tertarik untuk membeli properti seperti rumah.
Hal itu akan berdampak terhadap meningkatnya permintaan properti. Ketika permintaan tinggi, harga properti pun akan semakin naik.
Dari sisi investor pun juga sama. Investor akan melihat peluang investasi properti dan menganggap bahwa jenis investasi tersebut cenderung aman serta menguntungkan.
Lalu, bagaimana dari sisi pengembang atau developer? Suku bunga turun dapat menyebabkan biaya pembangunan bisa lebih rendah, tetapi tetap saja harga akan tinggi ketika permintaan rumah meningkat pesat.
Baca Juga: Investasi Properti vs Emas, Mana yang Lebih Cuan?
Efek Suku Bunga Naik Terhadap Properti
Sebaliknya, harga properti bisa cenderung menurun ketika suku bunga naik. Hal itu merupakan efek dari menurunnya permintaan properti atau rumah karena biaya KPR meningkat.
Namun, tinggi dan rendahnya permintaan properti tidak hanya bergantung terhadap suku bunga saja. Situasi ekonomi yang tidak stabil, ketatnya aturan di Tanah Air, hingga faktor-faktor lainnya dapat memengaruhi permintaan properti.
Baca Juga: Investasi Properti Komersial vs Residensial, Lebih Untung Mana?
Nah, kita lihat saja bagaimana perkembangan kebijakan suku bunga The Fed hingga akhir tahun 2025 ini. Apa pun kebijakan yang akan diambil oleh The Fed maupun Bank Indonesia ke depan, pelaku pasar dan calon investor properti di Indonesia tetap perlu mencermati dampaknya terhadap suku bunga dalam negeri.
Bagi yang sedang merencanakan pembelian rumah atau investasi properti, memahami dinamika suku bunga bisa menjadi kunci untuk mengambil keputusan yang lebih bijak dan tepat waktu.
Ingin tahu informasi terbaru seputar properti? Baca artikel-artikel kami lainnya hanya di A&A Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan saran investasi. Segala keputusan yang diambil pembaca merupakan tanggung jawab masing-masing.
Sumber:
- Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Pertama dalam 32 Tahun Voting Terbelah
- Bos The Fed Jerome Powell Blak-blakan Alasan Tahan Suku Bunga
- Pengaruh Pemangkasan Suku Bunga terhadap Harga Properti
- BI-Rate Turun 25 bps Menjadi 5,25%: Mempertahankan Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
- Apa Dampak Penurunan Suku Bunga The Fed untuk Perekonomian Indonesia?

